Lebaran Merah Putih 2012, Kalahnya Merah Putih oleh Puasa dan Lebaran

Lebaran Merah Putih 2012, Kalahnya Merah Putih oleh Puasa dan Lebaran

Judul yang saya angkat kali ini memang agak aneh, “Lebaran Merah Putih 2012, Kalahnya Merah Putih oleh Puasa dan Lebaran”. Lebaran identik dengan Idul Fitri. Sedangkan, Merah Putih adalah warna dari bendera Indonesia, Sang Saka Merah Putih. Sama sekali tidak ada persamaan yang dapat menghubungkan keduanya.

Tapi, yang akan dibahas disini adalah tentang semarak dari kedua hal tersebut. sebagaimana kita ketahui. Perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-67 kali ini hanya berselang beberapa hari sebelum perayaan Idul Fitri di Indonesia. Hal ini berdampak banyak pada semaraknya kedua kegiatan tersebut.

Perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia di kotaku, Sawahlunto secara umum, buka waktu upacara benderanya, menjadi tampak kurang semarak. Hal ini terjadi entah karena warga yang lebih fokus pada ibadah puasa ataukah karena kepedulian mereka yang mulai kurang terhadap hal-hal yang berbau seremonial.

Pada Agustus-an kali ini, tak banyak warga yang memasang Sang Saka Merah Putih di depan rumahnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya, di setiap rumah terdapat warga yang memasang bendera di depan rumahnya, kini hampir seluruh warga tak menyediakannya. Kalaupun ada yang memasang bendera, tiangnya terdiri dari batang bambu, batang pohon kecil, atau bilah kayu berukuran kecil yang biasa digunakan untuk penopang atap rumah.

Yang tampak memasang bendera kebanyakan hanya kantor instansi, itupun dipasang menjelang hari peringatan, tidak jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan, di Balaikota Sawahlunto sendiri, nuansa Merah Putih juga hilang, tak ada lampu hias yang kerlap-kerlip setiap malamnya lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi hal ini dapat dimaklumi karena Balaikota saat ini sedang direnovasi.

Suasana yang berbau Merah Putih yang dulunya mendominasi di setiap lingkungan warga, kini tinggal kenangan, kalah dengan perhatian dan keperluan warga yang lainnya untuk persiapan lebaran.

Beberapa penjual bendera serta atribut khas peringatan kemerdekaan, tampak sepi. Warga lebih memilih menyerbu tempat-tempat yang menjual bermacam kue dan masakan untuk berbuka puasa, atau ke toko-toko pakaian dan sembako untuk menyambut datangnya hari lebaran yang sudah di depan mata.

Jika dulu hampir setiap lingkungan RT, RW dan Desa, digelar berbagai macam perlombaan dan hiburan untuk memeriahkan HUT kemerdekaan, kini senyap. Tak ada lagi lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba sendok kelereng, panjat pinang, pun tak ada artis kampung yang bergoyang di panggung hiburan dengan membawakan lagu-lagu yang diiringi joget para penontonnya.

Apakah sudah begitu mulai menipisnya kah rasa kebangsaan warga? Entahlah. Mungkin mereka kini lebih memikirkan dan mengedepankan berusaha memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin kian mencekik. Mungkin juga mereka sudah terlalu bosan dengan hal-hal yang berbau seremonial sambil perlahan memendam nostalgia perjuangan para pahlawan perebut kemerdekaan.
Tak menutup kemungkinan ada pula yang berpikir semua itu masa lalu; mengisi kemerdekaan lebih sulit daripada sekedar upacara dan acara seremonial yang tentunya memerlukan dana.

Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia !

Maafkan warga kota kami yang terlalu sibuk memikirkan masa depan mereka masing-masing.

lomba lampu hias kampung

Share this post

Post Comment