Beranda Olahraga Menunggu Titah FIFA untuk Indonesia

Menunggu Titah FIFA untuk Indonesia

0
BERBAGI

Hari ini, Jumat, 14 Desember 2012, masa depan dunia persepakbolaan Indonesia akan ditentukan melalui rapat FIFA di Tokyo, Jepang. Draft sanksi untuk PSSI, KPSI, Pemerintah Indonesia, ribuan pesepakbola, pelatih dan jutaan penikmat olahraga terpopuler sejagat di Indonesia. Disini saya akan melakukan kilas balik mengapa rapat FIFA di Tokyo besok begitu penting bagi saya dan anda warga negara Indonesia.

Kita mundur cukup jauh hingga rezim Nurdin Halid yang penuh KKN di PSSI. Masih ingatkah anda ketika timnas Indonesia mencapai final AFF Cup 2010. Ini adalah turnamen terakhir yang diikuti timnas Indonesia di era Nurdin Halid yang penuh politisasi. Saya masih ingat ketika timnas asuhan Alfred Riedl ini melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola, waktu jeda antar semi final dan final yang seharusnya digunakan untuk latihan maksimal malah digunakan untuk berleha-leha seolah gelar sudah digenggam. Alhasil, Malaysia berpesta di Gelora Bung Karno, bukan rakyat Indonesia.

Berikutnya, di tahun 2011, Arifin Panigoro yang melihat kebobrokkan kompetisi domestik milik PSSI dibawah pengelolaan PT Liga Indonesia membentuk liga tandingan yang populer disebut breakaway league, Liga Primer Indonesia. Untuk menarik animo, Arifin mendatangkan bintang-bintang kelas dua dunia dan pelatih-pelatih berkualitas yang didistribusikan merata ke seluruh kontestan LPI. Hal ini menarik minat peserta ISL yang sudah berjalan separuh musim untuk hijrah ke LPI. Sebut saja PSM, Persema dan Persibo.  LPI berjalan separuh musim dan dijuarai Persebaya yang melahirkan bintang baru, Andik Vermansyah.

Selanjutnya, efek hadirnya LPI membuat PSSI pecah dan berakibat lengsernya Nurdin Halid. Kongres PSSI berikutnya melahirkan Djohar Arifin Husein sebagai ketua umum PSSI yang baru. FIFA memberikan selamat dan mencantumkan nama Djohar di website resmi FIFA sebagai ketua umum PSSI yang baru. Djohar yang lebih pro-Arifin Panigoro memutuskan membentuk liga baru yang bersih dan bebas KKN, semua pihak setuju. Tetapi keputusan berikutnya yang menambah jumlah peserta liga ditolak oleh mayoritas peserta ISL. Akhirnya ISL dan IPL berjalan sendiri-sendiri. Tetapi kali ini ISL yang berperan sebagai breakaway league. Beberapa klub juga terpeah karena pengurusnya ada yang pro-ISL dan ada yang pro-IPL.

La Nyala dan sekutunya di ISL berusaha melengserkan Djohar, segala cara dilakukan bahkan timnas pun terpecah karena permasalahan ini yang mengakibatkan FIFA sampai harus turun tangan. Karena permasalahan yang tak kunjung berakhir, FIFA, AFC, AFF, PSSI dan KPSI membuat MoU di Kuala Lumpur demi menyelamatkan sepakbola Indonesia, PSSI dan KPSI berniat melaksanakannya dengan sepenuh hati di Indonesia.

Tetapi masalah belumlah tuntas, PSSI dan KPSI saling melanggar MoU, FIFA memberi mandat kepada pemerintah Indonesia melalui Kemenpora untuk menyelesaikan permasalahan ini. Separuh jalan, KPK menetapkan Menpora, Andi Malarangeng sebagai tersangka kasus korupsi, iapun mundur dari jabatannya sebagai menpora. Menko Kesra, Agung Laksono yang mendapat mandat dari SBY untuk menjadi menpora ad-interim. Sebagai orang baru di masalah ini, Agung mengambil sikap netral dan memutuskan untuk mengembalikan kasus ini ke FIFA. Mandat khusus FIFA kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan intervensi menjadi sia-sia.
Hari ini FIFA akan mengeluarkan titahnya sebagai raja sepak bola dunia. Kabar yang saya dapat, AFC dan UEFA akan mendukung Indonesia dalam rapat agar terbebas dari sanksi FIFA. Sebenarnya, Presiden FIFA, Sepp Blatter juga berat jikalau harus menghukum Indonesia karena kesalahan segelintir orang keras kepala. Presiden UEFA, Michel Platini optimis Indonesia tidak akan menerima sanksi.

Apapun hasil keputusan nanti, itu adalah pilihan yang terbaik bagi Indonesia. Jika kena hukuman, stakeholder sepak bola Indonesia dan juga pemerintah harus introspeksi diri akan kesalahannya. Jika terbebas dari sanksi, saya bersyukur Indonesia masih dipercaya oleh dunia dan masih punya harapan besar untuk menjadi lebih baik.

Sawahlunto, 14 Desember 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here