Mimpi yang Bisa Dibeli

Mimpi yang Bisa Dibeli

Kebahagiaan yang mendera Roman Abramovich tiada tara di Allianz Arena ketika Chelsea menjuarai Liga Champions. Ditangan Roberto Di Mateo, legenda Chelsea, akhirnya penantian sembilan tahun Abramovich tercapai yakni merangkul trophy Liga Champions.

Setelah Drogba berhasil melaksanakan eksekusi penalti. Abramovich dan John Terry, kapten Chelsea yang menonton dari tribun karena skorsing langsung berpelukan erat. Liga Champions memang adalah impian Abramovich yang tak sanggup diwujudkan oleh manajer-manajer sebelumnya.

Akan tetapi, nasib Di Mateo di Chelsea masih teka-teki, walaupun telah mewujudkan impian sang pemilik. Selain itu, apakah Abramovich akan lebih hemat menggelontorkan uangnya untuk Chelsea?

Kembali ke kesuksesan Chelsea di Eropa musim ini. Para punggawa dan fans Bayern Munchen yang masih merenung perihal hasil akhir yang mungkin saja berbeda, mulai bersiap kembali ke kehidupan sehari-hari. Meski banyak wajah muram, tak sedikit pula yang secara sportif mengucapkan selamat kepada pendukung Chelsea sembari mengucap janji pembalasan di pertemuan klub mereka selanjutnya.

Imaji kesuksesan fenomenal Chelsea perlahan berpindah tempat. Trofi La Orejona alias Si Kuping Besar dibawa pulang oleh sang jawara, dengan jadwal penerbangan tim kembali ke London di jam makan siang, untuk pesta spesial di halaman rumah sendiri.

Pantaslah Abramovich melakukan itu. Dia telah mengeluarkan lebih dari £1 miliar selama sembilan tahun kepemimpinan di Chelsea dalam upaya memburu titel yang laksana cawan suci buat klub Eropa.

Misi tercapai. Pekerjaan selesai. Lalu sekarang apa? Abramovich memang tampak seperti seorang miliarder yang terpuaskan dalam 24 jam setelah kemenangan Chelsea di Allianz Arena, namun dia tak mungkin dapat mengumpulkan kekayaan yang berlimpah jika punya sifat gampang puas.

Dengan demikian, trofi Liga Champions pertama dalam sejarah Chelsea akan lebih dipandang sebagai batu loncatan menakjubkan ketimbang garis finis.

Isu-isu penting kini menanti para eksekutif di kekaisaran Roman. Sang manajer yang mengantar tim menjuarai UCL dan Piala FA dalam periode tersukses bagi seorang caretaker sepanjang sejarah olahraga pergi berlibur tanpa mengetahui apakah dia harus membuat persiapan untuk pramusim atau memberi tahu agennya agar mulai mencarikan pekerjaan baru.

Kabar terakhir yang dilansir The Times menyatakan Abramovich siap memberikan kontrak selama satu tahun buat pria Italia itu meski sang bos besar hingga saat ini masih kurang yakin dengan kapasitas RDM sebagai manajer top. Bagaimanapun, belum ada kata resmi soal keputusan ini.

Bila Roberto Di Matteo akhirnya tak dipermanenkan — kendati tampak amat konyol, tetap ada kemungkinan untuk itu — maka sang pengganti sudah harus menempati posnya pada 9 Juli, ketika para personel Chelsea non-Euro 2012 mulai kembali berlatih pascaliburan.

Pengisi lini depan tim untuk 2012/13 juga akan mendominasi pemikiran di kubu Stamford Bridge dalam beberapa hari ke depan.

Dengan ketidakjelasan masa depan Didier Drogba, — kabar bahwa bomber Pantai Gading itu tak akan memperpanjang kontrak disangkal agennya, Fernando Torres pun seolah melemparkan granat tangan bagi rencana klub di musim panas.

Seakan tak menyadari kebrilianan Drogba dalam sepuluh pekan terakhir, termasuk menjadi bintang kemenangan atas Bayern, dan performanya sendiri yang kebanyakan melempem sepanjang 16 bulan berseragam di Chelsea, striker Spanyol itu menyatakan dia diperlakukan buruk oleh klub dan berniat menggelar pembicaraan untuk menentukan masa depannya.

Sedangkan untuk para pemain senior lainnya, Frank Lampard dan John Terry akan tetap memainkan peranan mayor musim depan, tetapi Florent Malouda, Paulo Ferreira, Jose Bosingwa, dan bahkan Michael Essien tampaknya akan menyusul jejak Drogba menuju pintu keluar.

Terdapat pula situasi kontrak yang perlu diselesaikan terkait Daniel Sturridge dan Ashley Cole, di mana keduanya hanya memiliki sisa ikatan kerja satu tahun lagi dengan The Blues.

Biar bagaimanapun, jajaran direksi tentu tak akan jemu mengupayakan perbaikan untuk klub. Para chief akan tetap maju dengan rencana untuk merelokasi basis tim ke Battersea, serta memaksimalkan status baru sebagai Raja Eropa untuk mengamankan kesepakatan komersial yang bernilai lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Setelah merasakan nikmatnya sampanye kesuksesan di level elite, Abramovich pun tak akan mau menurunkan standarnya dan puas dengan sajian wine. Sang taipan Rusia pastinya akan menuntut sebuah dinasti, yang kemungkinan besar membutuhkan pengeluaran lebih substansial lagi dari investasinya.

Keadaan ruang ganti tak harmonis yang diwarisi Di Matteo dari Andre Villas-Boas semestinya sudah dicermati, tapi pencarian Abramovich untuk sepakbola fantasi tak akan berhenti. Ekspektasinya akan lebih tertuju kepada brand sepakbola yang jauh lebih menarik mata ketimbang yang telah kita saksikan dalam perjalanan Chelsea di babak-babak akhir Liga Champions musim ini. Menang memang menakjubkan. Tapi menang dengan gaya? Itu akan menjadi mimpi lain yang ingin diwujudkan Abramovich.

Share this post

Post Comment