Beranda Olahraga PSSI Butuh Sosok Ketua Umum yang Mengutamakan Usia Dini

PSSI Butuh Sosok Ketua Umum yang Mengutamakan Usia Dini

0
BERBAGI

Ketika kompetisi sepakbola Indonesia mengalami pasang surut dan terus mengalami kericuhan beberapa tahun silam, pembinaan usia muda dan usia dini bergerak ke arah lebih baik ketika Djohar Arifin Husin memimpin PSSI. Tim arahan Indra Sjafri, Timnas U-17 dibawanya berkeliling Asia untuk berlatih serta berkompetisi dan menjadi cikal bakal timas U-19 yang sukses meraih gelar Piala AFF U-19. Dengan skuad yang tidak berbeda jauh, mereka mampu melaju ke putaran final Piala AFC U-20.

Setelah Djohar yang merupakan orang asli sepakbola (mantan pemain PSMS Medan) dipaksa turun, naiklah pengusaha yang akhirnya tersangkut kasus korupsi menggantikan dosen teladan tingkat nasional 1985 ini. Kabar baiknya, pada 11 Agustus lalu, Hinca Panjaitan, Pelaksana Tugas (PLT) Ketua Umum PSSI, memutuskan segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) yang bakal digelar di Makasar pada 17 Oktober 2016. KLB ini memilih ketua umum, wakil ketua umum dan anggota komite eksekutif baru untuk periode 2016-2020. Tidak seperti era Nurdin Halid yang tetap memimpin PSSI meski berada dalam penjara.

Besok, Senin, (22/08) adalah tanggal yang ditetapkan Komite Pemilihan Ketua Umum PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) sebagai tanggal dimulainya pendaftaran bakal calon ketua umum PSSI. Pendaftaran akan berlangsung hingga 5 September 2016. Berikutnya akan dilaksanakan tahapan verifikasi hingga 11 September 2016. Nama-nama yang bertebaran untuk bertarung merebutkan kursi ketum PSSI harus sudah terdaftar mulai besok agar bisa maju ke tahap pemilihan.

Dari sekian banyak nama yang bertebaran, entah kenapa hanya nama politisi yang muncul. Mereka umumnya merupakan para aktivis di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Kompetisi tingkat teratas yang banyak malah melambungkan nama pesepakbola asing ini tentu akan terus diutamakan oleh ketua umum terpilih. Secarut-marut apapun kompetisi ini, akan tetap jadi lokomotif karena mendatangkan sponsor. Setelah itu, baru Divisi Utama dan Liga Nusantara dijalankan. Berikutnya, level U-21 bagi klub yang bermain di level profesional, dan Piala Suratin (U-17) bagi klub amatir.

Kita tentunya ingin suatu saat timnas Indonesia berjaya di Piala Dinia. Deutscher Fußball-Bund eV, PSSI-nya Jerman dalam satu dekade terakhir memaksa setiap klub profesional Jerman untuk memperbesar anggaran pengembangan pemain muda dan dini. Mereka tidak ingin timnas mereka hanya diisi pemain naturalisasi, begitupun saya. Meskipun, Tim Nasional Sepak Bola Jerman, merupakan Proyek Raksasa Naturalisasi Paling Berhasil di dunia. Efeknya nyata, mereka meraih gelar Piala Dunia 2014.

Di Indonesia, pengembangan usia muda memang berjalan. Akan tetapi, usia dini seolah ditinggalkan dan tidak diperhatikan oleh PSSI. Piala Danone (U-12) hanya dijalankan sendiri oleh perusahaan asal dari Perancis tersebut. Dukungan PSSI tidak terlihat jelas pada turnamen level akar rumput ini. Sementara itu, Piala Medco (U-15) hilang timbul. Meskipun setiap calon ketua PSSI selalu menjanjikan pembinaan usia dini dalam visi dan misinya.

Sekarang kita hanya berharap Ketua Umum PSSI terpilih nantinya akan menjalankan semua kompetisi dengan benar, yang tentunya akan memberikan gairah positif dalam sepakbola. Apalagi kompetisi yang menghasilkan pemain bagus bagi timnas sehingga membawa timnasnya juara. Akan berbondong-bondong kembali anak-anak masuk SSB dan akademi sepakbola. Bukankah itu yang diinginkan pembina, pengelola dan pelatih? Latihan yang ramai, bukan yang sepi karena anak-anak dilarang orang tuanya berlatih sepakbola karena tidak melihat masa depan pada sepakbola Indonesia.

Dengan pembinaan usia dini yang matang, tentunya kita dapat berharap prestasi yang akan diraih tim nasional sepakbola Indonesia di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here