Pentingnya Manajemen Risiko dan Mitigasi Bencana Teknologi Informasi - ZAKIY.my.id

Pentingnya Manajemen Risiko dan Mitigasi Bencana Teknologi Informasi

Kebakaran gedung Cyber tadi siang, Kamis (02/12/2021) menjadi bukti pentingnya manajemen mitigasi risiko bencana teknologi informasi.
- 21:14 WIB
Pentingnya Manajemen Risiko dan Mitigasi Bencana Teknologi Informasi
Pentingnya Manajemen Risiko dan Mitigasi Bencana Teknologi Informasi

Kebakaran gedung Cyber tadi siang, Kamis (02/12/2021) menjadi bukti pentingnya manajemen mitigasi risiko bencana teknologi informasi.

Kejadian force majeur gedung Cyber kebakaran yang terjadi membuat banyak pengguna layanan dari website yang disimpan pada server di gedung Cyber tidak bisa digunakan.

Mulai dari website berita abal-abal hingga kantor berita Antara, layanan perbankan nasional, bahkan aktivitas pialang saham di Bursa Efek Indonesia terhenti.

Penyebabnya karena pengelola server memutuskan sambungan listrik gedung Cyber yang terbakar untuk menghindari risiko yang tidak diharapkan.

Daftar Isi

Kenapa Manajemen Risiko Teknologi Informasi Penting?

Dengan meningkatnya tren Working From Home (WFH) di Indonesia, manajemen risiko teknologi informasi menjadi salah satu hal harus diperhatikan oleh seluruh organisasi atau instansi yang menggunakan teknologi informasi.

Manajemen risiko yang tepat akan memberikan standar mitigasi yang tepat ketika terjadi bencana teknologi informasi. Dan kebakaran pada gedung server adalah salah satu klasifikasi bencana teknologi informasi.

Ketika terjadi kebakaran di gedung server, orang awam tentu akan menyiramkan air untuk memadamkan api. Begitu juga Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta tentunya menggunakan air dari untuk memadamkan kebakaran gedung Cyber tadi siang. Padahal air adalah musuh utama barang elektronik, tentunya selain api.

Server di rak server di gedung Cyber yang terbakar tinggal menunggu ajal, entah dilahap api atau basah oleh air.

Ketika manajemen risiko dan mitigasi teknologi informasi dimiliki dan dipahami oleh banyak orang, hal-hal seperti kebakaran di gedung yang diawasi CCTV 24 jam kecil kemungkinan akan terjadi.

Mitigasi Teknologi Informasi

Saya bukan pakar atau seorang yang ahli dalam mitigasi bencana teknologi informasi. Akan tetapi, saya cukup paham hal dasar dalam mitigasi bencana teknologi informasi.

Sebagai server tier 3, server di gedung Cyber tentunya telah dilengkapi Disaster Recovery Plan (Rencana Pemulihan Bencana) teknologi informasi yang sangat baik. Tetapi, kenapa bisa terjadi kebakaran?

Saya tidak berandai-andai untuk musibah ini, tetapi kemungkinanya karena implementasi dari IT-DRP tadi yang kurang. Percuma rencana banyak, lengkap, dan detail. Namun, tidak dilaksanakan. Entah petugas penjaga server di gedung Cyber tidak tahu, lengah, atau memang tidak pernah mendapat pelatihan.

Server Website di Daerah Rawan Bencana

Salah satu efek kebakaran gedung Cyber adalah banyaknya website yang tidak bisa diakses hingga saat ini.

Sebagai informasi, sebagian besar server website di Indonesia disimpan di Jakarta dan Jogjakarta. Dua daerah yang paling rawan di Indonesia, Jakarta langganan banjir, sedangkan Jogjakarta rawan gempa bumi dan gunung meletus.

Hal ini yang membuat saya tidak pernah menyimpan website pribadi saya di server Indonesia. Secara pribadi saya minimal akan menaruh website di server Singapura.

Setidaknya Singapura lebih dekat ke Sawahlunto daripada jarak Sawahlunto ke Jakarta atau Jogjakarta, pikir saya ketika awal-awal bisa membuat website pada tahun 2005 lalu. Dan menurut saya alasan asal-asal tersebut sudah cukup terbukti.

Bahkan jika di Indonesia terdapat server tier 4 pun, saya akan lebih percaya server di luar negeri sekalipun hanya server tier 1.

Situasi berbeda ketika berhubungan dengan klien yang merasa datanya lebih aman jika disimpan di Indonesia. Ya, ini soal persepsi. Tidak ada yang salah atau merasa benar.

Mitigasi Website

Hal utama dari mitigasi website tentunya rajin backup data secara mandiri. Apa lagi coba?

Minimal Anda bisa menyelamatkan sebagian besar data ketika server yang digunakan mengalami kegagalan.

Saya pernah punya cerita lucu ketika masih bekerja di kantor lama.

Ketika saya dan tim sedang asesmen TI di salah satu lembaga negara pada saat Idul Fitri, server mereka mengalami kegagalan. Sementara itu, para staf yang bertanggung jawab sedang mengambil cuti lebaran.

Lebih mengagetkan ketika lembaga tersebut tidak memiliki IT DRP, meski menurut IT master plan mereka memang masih belum saatnya punya. Seketika tingkat kematangan TI mereka jatuh selain hilangnya data keuangan.

Bahkan CDN pun bisa mengalami down, ingat ketika CDN Fastly mengalami masalah pertengahan tahun ini? Saat itu banyak website besar dunia yang tidak bisa diakses.

CDN memang membuat akses ke website tetap cepat meski diakses dari negara manapun, kecuali mungkin untuk Korea Utara. Namun, bakal berabe ketika mereka juga down.

Ini hanya tulisan asal tulis tetapi saya izinkan untuk dikomentari.

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak!

Blog ini berasal dari Indonesia sehingga terikat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.