Menggugat Sesat Pikir Influencer yang Membenturkan Biaya Hidup dengan Gaya Hidup

Aksi berani para aktivis lingkungan yang membentangkan spanduk di Bundaran HI baru-baru ini menyuarakan jeritan paling jujur dari masyarakat akar rumput.
Tuntutan mereka sangat mendasar dan nyata, yakni meminta pemangku kebijakan untuk menurunkan biaya hidup dan memberikan akses udara bersih bagi warga negara.
Di tengah impitan ekonomi yang kian mencekik, seruan protes semacam itu adalah representasi dari perut kosong yang tak lagi bisa ditenangkan dengan retorika ruang sidang.
Namun, panggung media sosial kita tiba-tiba dikejutkan oleh cuitan seorang figur publik yang memutarbalikkan realitas tersebut dengan sangat pongah.
Ilusi Literasi Keuangan di Balik Gawai Mewah
Sang pemengaruh dengan mudahnya mengetik bahwa beratnya beban kehidupan saat ini bukan disebabkan oleh inflasi, melainkan karena gaya hidup yang terlalu melangit.
Pesan motivasional bernada merendahkan tersebut seolah menuduh bahwa kelas pekerja hanya kurang pandai bersyukur dan terlalu sibuk mengeluhkan keadaan.
Sebagai seseorang yang pernah bertahan hidup dengan anggaran sangat ketat selama satu dekade penuh di kamar kos, logika semacam ini terasa sangat menyakitkan.
Saya tahu persis bagaimana lelahnya memutar otak setiap hari hanya untuk sekadar memastikan ada porsi makanan yang layak di atas meja menjelang akhir bulan.
Kegagalan Membedakan Konteks Mikro dan Makro
Ada kecacatan logika yang sangat fatal ketika seseorang mencoba menyelesaikan persoalan struktural sebuah negara hanya dengan menasihati pemangkasan daftar belanja harian.
Kita tentu sepakat bahwa literasi keuangan pribadi adalah tameng penting agar seseorang tidak terjebak dalam pusaran utang demi mengejar gengsi sosial.
Memotong anggaran membeli kopi di kafe mahal memang sangat rasional jika masalah utamanya adalah ketidakmampuan mengendalikan hasrat konsumtif personal.
Namun, menggeneralisasi masalah ekonomi makro yang sistemik dengan kacamata sempit literasi keuangan pribadi adalah sebuah kebodohan yang teramat nyata.
Realita Getir Perjuangan Kelas Pekerja
Ketika harga kebutuhan pokok melonjak drastis dan tarif dasar listrik terus merangkak naik tanpa ampun, akar masalahnya jelas bukan lagi pada kebiasaan minum kopi.
Biaya pendidikan yang terus melambung tinggi seiring dengan fluktuasi harga bahan bakar minyak sukses memangkas habis penghasilan bulanan warga secara paksa.
Semua deretan beban ini adalah variabel biaya hidup riil yang sama sekali tidak bisa diselesaikan hanya dengan mempraktikkan gaya hidup berhemat ala filsuf stoik.
Memaksa masyarakat kelas menengah ke bawah untuk terus menekan gaya hidup saat biaya hidup sesungguhnya sedang mencekik leher adalah tindakan konyol dan tidak bernurani.
Khotbah finansial dari balik gawai mewah sang figur publik ini secara tidak langsung telah menyamakan dampak inflasi negara dengan sifat boros individu.
Narasi menyesatkan ini merupakan bentuk pengerdilan masalah struktural yang secara telak merendahkan martabat para pekerja keras di negeri ini.
Masyarakat pekerja kita sudah banting tulang memeras keringat siang dan malam untuk bertahan hidup dari krisis, bukan untuk memenuhi gaya hidup palsu dunia maya.
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan korban keadaan dan mulai menuntut pertanggungjawaban atas tata kelola ekonomi makro yang kian tidak terkendali ini.
Terkait
Eksodus Pabrik ke Jawa Tengah Menjadi Sinyal Transformasi Industri Nasional
Ekonomi • 2 bulan lalu
Merayakan Tiga Tahun Perjalanan Pernikahan yang Semakin Mendewasakan Perasaan Kita
Hiburan • 2 bulan lalu
Mengelola Kecemasan Karyawan Menghadapi Gelombang Transformasi Kecerdasan Buatan
Teknologi • 5 hari lalu
Menggugat Budaya Ketakutan yang Melumpuhkan Inovasi Transformasi Digital di Indonesia
Teknologi • 2 bulan lalu
