Capai Final Liga Champions 2021, Ini Alasan Kenapa Manchester City Bukan Klub Instan!

Manchester City ke Final Liga Champions.
via reuters

Final Liga Champions UEFA 2021 sudah di depan mata, finalisnya sudah ditentukan Manchester City akan bertemu Chelsea, sebuah All-England Final.


Saya sudah lama sepertinya tidak membahas sepak bola di blog ini. Terakhir blog ini membahas sepak bola adalah ketika membahas tim nasional Spanyol pada 2018 sebelum perhelatan Piala Dunia 2018 (BACA).

Kali ini saya tidak akan membahas tanah Matador lagi, tetapi akan membahas mengenai Final Liga Champions 2021 dan salah satu finalisnya yang berpeluang meraih treble winners musim ini, Manchester City FC.

Daftar Isi


Sepak Bola Inggris

Tim Premier League ke Final Liga Champions 2021.
via wikimedia.org

Saya sendiri mulai melirik sepak bola Inggris ketika masuk SMP, sekitar tahun 2007. Sebuah keterlambatan? Tidak, kok! Bagi orang seumuran saya, “kiblat” sepak bola dunia adalah ke Italia. Ada banyak pemain dan pelatih bintang yang memilih untuk berkarier di Italia.¬†Hal ini yang menjadikan saya penggemar Inter Milan dan tim nasional Italia jika berbicara turnamen seperti Piala Eropa atau Piala Dunia.

Tahun 2007 adalah masa ketika tim Inggris Liverpool kembali bertemu tim Italia AC Milan di Final Liga Champions UEFA 2007, setelah bertemu di Final Liga Champions di Istanbul pada 2005.

Saat itu saya menyadari bahwa tim Inggris mampu menjadi finalis Liga Champions berturut-turut sejak 2005, meski hanya Liverpool yang memenangkannya. Bahkan ini berlanjut hingga tahun 2009. Manchester United (MU) vs Chelsea adalah pertandingan final Liga Champions 2008 dan MU vs Barcelona pada 2009, belum masuk hitungan.

Tetapi saya akhirnya memilih menjadi pendukung Manchester City yang kebetulan dibeli pengusaha telekomunikasi Thailand, Thaksin Shinawatra sebesar 82 juta pounds pada tahun 2007.

Sepak Bola Inggris Erat dengan Uang Banyak

Final Liga Champions dan uang yang banyak.
via sportskeeda

Sepak bola Inggris sangat erat dengan perputaran uang yang banyak. Baik secara langsung seperti dalam nilai transfer pemain (dan pelatih) yang menjadi gila-gilaan. Hingga tidak langsung seperti nilai penjualan hak siar.


Masih ingat di benak kita soal polemik BUMN TVRI yang membeli hak siar Liga Inggris dengan menghabiskan uang negara hingga Rp164,2 triliun (Baca). Akhir dari polemik ini adalah dipecatnya Helmi Yahya dari posisi direktur.

Era membuat sejarah dengan uang bermula sekitar dua dekade lalu, ketika Chelsea dibeli oleh Roman Abramovich dan keluarga Glazer datang ke MU. Setelahnya, taipan dari berbagai negara beramai-ramai membeli tim-tim Inggris. Tak ketinggalan pelaku sepak bola Indonesia Imam Arif yang juga sempat memiliki saham di Leicester City.

Sepak bola Inggris kian menjadi magnet masuknya uang dengan deras. Banyak pesepak bola top dari berbagai negara yang akhirnya bergabung dengan tim-tim Inggris meski bukan tim papan atas.

Ingat dengan Dimitri Payet atau Chicharito yang tiba-tiba bergabung dengan West Ham United pada usia emas mereka? Payet bisa dibilang pemain top di negaranya Perancis dan Chicharito  adalah pemain top Meksiko yang pernah bermain di MU dan Real Madrid, padahal West Ham sendiri bukanlah kandidat juara. Everton juga dengan mudah mengontrak Carlo Ancelloti dan sederet pemain bintang meski belum bisa dikatakan membuahkan hasil.


Hadirnya uang dari pemilik menjadikan tim-tim Inggris lebih aktif dalam bergerak. Mereka bisa mendatangkan pemain dengan harga selangit atau mengontrak pelatih berpengalaman dengan sederet prestasi.

Ah iya, agak berbeda gaya kepemilikan pengusaha migas dengan non migas. Pengusaha migas terlihat lebih santai dalam menghamburkan uang. Sedangkan pengusaha non migas lebih ingin mencari keuntungan secepatnya. Di Indonesia juga begitu kok, Arifin Panigoro bahkan mau mengeluarkan uang untuk mendirikan break away league lengkap dengan tim-tim kontestannya beberapa tahun silam.

Apakah Manchester City Tim Instan?

Manchester City ke Final Liga Champions.
via reuters

Kembali ke judul dari tulisan, pertanyaan pada lead ini muncul di antara penggemar sepak bola belakangan ini.

Jawabannya? Tentu saja tidak!


Sebutan tim instan pada Manchester City tidak lebih karena ulah media, inilah alasannya. Meski tim-tim lain juga menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk meraih gelar. Tetap saja hanya Manchester City yang dianggap klub instan.

Ketika Chelsea juga mencapai Final Liga Champions, mereka juga mengeluarkan uang yang banyak untuk menebus Eduard Mendy, Timo Werner, Hakim Ziyech, Kai Havertz, dan sederet pemain lainnya pada awal musim ini. Tetapi tidak ada yang menyebut Chelsea sebagai tim instan.

Manchester United, Real Madrid, atau Barcelona yang mencapai Final Liga Champions, pastinya juga dengan menggelontorkan banyak uang. Bahkan Real Madrid sampai mendapatkan julukan Los Galacticos karena banyaknya pemain bintang yang dibeli. Tidak ada bedanya City dengan tim besar lain di era sepak bola industri ini.

Seharusnya di era industri seperti sekarang, sah-sah saja bagi tim yang memang memiliki lebih banyak uang untuk membuat sejarahnya sendiri. Namun City bukan tim yang meraih kesuksesan hanya dengan menghamburkan banyak uang.

Sebagai penggemar, saya tahu kalau Manchester City juga berinvestasi pada akademi. Hanya saja pemain muda mereka sendiri yang kebanyakan enggan untuk menunggu (Baca).

Seperti kebanyakan hal serupa yang terjadi di tim yang mengeluarkan banyak uang untuk membangun tim utama. Bahkan, Messi sendiri pernah memikirkan untuk pindah ke Real Madrid ketika lama mendapat kejelasan dari Barcelona pada masa mudanya. Tetapi lihat berapa kali Lionel Messi bermain di Final Liga Champions bersama Barca, sebutan Barcelona.

Akademi Manchester City pernah memiliki sederet pemain yang sekarang jadi pesepak bola terkenal seperti Loris Karius dan Kasper Schmeichel untuk posisi Kiper, gelandang Jadon Sancho serta Daniel Sturidge untuk lini serang.

Hanya mereka yang memang pengemar City seperti Phil Foden yang bersedia untuk menunggu kesempatan. Phil Foden yang merupakan warga Greater Manchester bahkan mungkin mendapat kesempatan tampil di Final Liga Champions bersama Manchester City.

Di era yang lebih lama ada Micah Richards yang bertahan dari Manchester City masih tim semenjana hingga jadi penantang gelar juara Liga Inggris setiap tahunnya.

Seharusnya, dengan lolosnya ke Final Liga Champions 2021 maka semua orang harus berhenti menyebut Manchester City sebagai tim instan.