Membedakan Wisata Halal dan Wisata Religi

Beberapa waktu terakhir istilah wisata halal sedang hangat setelah adanya saling klaim antara Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin terkait siapa yang duluan menyatakan wisata halal.

Padahal wisata halal sendiri bukanlah barang baru. Di level global, sudah banyak negara yang menerapkan wisata halal dalam kebijakan pariwisata. Sementara itu, meski memiliki prospek mengembangkannya, Indonesia masih berebut soal ‘siapa yang duluan’.

Bagi saya sendiri, wisata halal memang bukan hal baru, karena Provinsi Sumatera Barat tempat saya tinggal malah tengah gencar-gencarnya memacu destinasi wisatanya menjadi wisata halal dalam beberapa tahun terakhir.

Wisata halal dan wisata religi sendiri sering bertukar makna atau disamakan saja oleh beberapa orang. Sebenarnya, keduanya memiliki makna yang berbeda.

Dilansir dari Uzone.id, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa menjelaskan perbedaannya.

Wisata halal juga bukan berarti mengislamkan destinasi wisatanya. Namun, wisata halal adalah semacam extended service. “Menyiapkan kebutuhan bagi wisatawan Muslim, seperti makanan halal dengan banyak restoran bersertifikasi halal,” ujarnya dalam Four-Year Indonesia Tourism: Final Countdown To 20 Million di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Jadi, yang dimaksud wisata halal adalah memberikan fasilitas bagi wisatawan muslim dengan tujuan meningkatkan kenyamanan selama perjalanan.

Rizki menekankan bahwa wisata halal bukan kunjungan ke masjid-masjid tetapi menyiapkan masjid, musala, dan restoran dengan sertifikasi halal. “Kalau kunjungan ke masjid-masjid itu dinamakan wisata religi,” ujar Rizki.

Komentar
Memuat...