Mi Instan untuk Sahur: Sebuah Panduan dari Ahli Gizi
Seringkali kita merasa terlambat bangun untuk sahur dan akhirnya memilih mi instan sebagai makanan siap saji. Namun, ternyata kita perlu menghindari mi instan saat sahur, terutama bagi yang sedang menjalani puasa.
Dr. Eva Kurniawati M.Gizi Sp.GK, seorang ahli gizi dari RS PELNI Jakarta, menjelaskan bahwa kita perlu menghindari makanan dengan kandungan garam tinggi saat sahur untuk mengurangi rasa haus di siang hari. Mi instan, makanan olahan seperti keripik, dan makanan kaleng adalah contoh makanan asin yang umum dimakan saat sahur, seperti dikutip dari Antara pada 25 Maret 2023.
Selain itu, Dr. Eva juga menyarankan untuk menghindari makanan dengan lemak jenuh tinggi saat sahur dan berbuka. Makanan tersebut dapat memperlambat proses pencernaan, menyebabkan kembung, memperparah refluks asam lambung, dan meningkatkan jumlah kalori yang sangat besar. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan selama bulan Ramadhan.
Makanan tinggi gula juga sebaiknya dihindari, karena dapat membuat badan lesu setelah beberapa jam dikonsumsi. Hal ini juga berlaku untuk makanan pedas yang dapat mengiritasi lambung dan menyebabkan masalah pencernaan.
Dr. Eva menekankan pentingnya menyajikan sahur dan berbuka puasa dengan menu yang kaya akan karbohidrat kompleks, protein, serat, dan vitamin untuk memberikan energi dan nutrisi yang cukup. Anda juga dianjurkan untuk tidak makan berlebihan dan menjaga porsi protein, vitamin, dan karbohidrat yang seimbang.
Sebagai contoh, konsumsi makanan pokok sehari-hari yang sesuai dengan aturan Germas bisa terdiri dari:
- 150 gram nasi atau tiga potong kentang (300 gram),
- 75 gram ikan kembung atau dua potong ayam tanpa kulit,
- 1 butir telur ayam ukuran besar (55 gram),
- 2 potong daging sapi (70 gram) atau 100 gram tahu/tempe,
- 1 mangkuk sayur (150 gram), dan
- 2 potong pepaya (150 gram) atau dua buah jeruk (110 gram) atau satu buah pisang ambon kecil (50 gram).
Referensi: Antara
