Nasi Ka Baka, Bekal Perjalanan Khas Padang Panjang

Saya pertama kali mengetahui soal nasi ka baka ketika mengunjungi Dinas Pariwisata Kota Padang Panjang dalam rangka pengenalan beberapa program dari Wikimedia Indonesia. Ketika sedang membahas tentang kebudayaan Minangkabau, bapak Medi Rosdian turut menyampaikan perihal nasi ka baka. Perlu diingat, baka di sini bukan memiliki arti sebagai “bakar” tetapi “bekal”

Nasi ka baka atau nasi untuk bekal adalah sebuah kearifan lokal bundo di Minangkabau dalam membekali anggota keluarganya saat hendak berpergian. Penyajiannya dengan cara dibungkus daun pisang yang sudah disangrai. Lauknya disimpan dengan cara dibenamkan di dalam nasi. Penggunaan daun akan menjaga citarasa dari nasi ka baka dan membuatnya tahan lama.

Sebenarnya, di rumah saya pun ketika hendak melakukan perjalanan, bundo saya selalu menyiapkan bekal dalam format seperti ini. Hanya saja, saya biasa menyebutnya sekadar “nasi bungkuih“.

Pembeda antara “nasi Padang” biasa dengan nasi ka baka adalah tidak adanya kuah santan seperti masakan khas Minangkabau pada umumnya. Lauk yang disajikan untuk teman menyantap nasi dibuat dari bahan yang bisa tahan lama setelah diolah dengan cara digoreng, tidak lupa ditambahkan samba lado.

Ketika di Dinas Pariwisata Padang Panjang, bapak Medi menyampaikan sudah ada beberapa rumah makan di Padang Panjang yang menyediakan nasi ka baka dengan harga bervariasi di belasan ribu rupiah. Tampaknya Pemko Padang Panjang juga tengah gencar mempromosikannya sebagai kuliner unggulan daerah.

Komentar
Memuat...