Peluang Startup Baru Meraih Investasi

Pasar Indonesia merupakan ekosistem pertumbuhan bisnis rintisan (startup) yang baik. Empat dari tujuh startup unicorn yang saat ini ada di Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Keempatnya merupakan berbasis teknologi.

Dukungan kuat dari pemerintah Indonesia menjadikan banyak pelaku usaha juga berlomba-lomba mendirikan startup. Melalui pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, pemerintah Indonesia memiliki harapan di akhir 2019 bisa hadir startup unicorn kelima di Indonesia.[1]

Venture Capital Fokus Pada Pendanaan Seri B

Seolah sejalan dengan harapan pemerintah Indonesia, sejumlah modal ventura atau venture capital (VC) pun lebih memilih berinvestasi di startup yang sudah mapan. Artinya, pendanaan lebih banyak yang akan mengalir pada startup saat ini berupaya mendapatkan pendanaan startup seri atau putaran B. Pendanaan di startup yang sudah mengincar pendanaan seri B akan lebih memberikan kepastian keuntungan.

Pendanaan seri B adalah pendanaan keempat setelah pendanaan startup tahap awal, pendanaan angel investor, dan pendanaan seri A.[2] Besarnya pendanaan ini berkisar Rp22 miliar hingga Rp 80 miliar. Setelah pendanaan seri B juga masih terdapat pendanaan seri C.

B Capital, VC yang didirikan co-founder Facebook, Eduardo Saverin di Singapura berniat memberikan pendanaan bagi startup di Asia Tenggara. Mereka siap menanamkan investasi di startup yang bergerak di bidang fintech, kesehatan, transportasi, hingga logistik.[3]

Para investor berharap dana yang diinvestasi bisa dimaksimalkan untuk ekspansi pasar yang lebih luas.

Peluang Pendanaan Bagi Startup Baru

Masalah yang dihadapi startup baru adalah tidak banyaknya investor yang bersedia memberikan pendanaan kepada startup baru. Para investor tampaknya ‘frustrasi’ dan merasa pesimis dengan startup baru.[4]

Meski banyak pihak yang fokus pada startup yang mengincar pendanaan seri B, peluang-peluang bagi startup baru tetap terbuka. Asalkan startup baru tersebut mampu menghadirkan inovasi yang benar-benar baru dan menyelesaikan masalah yang dihadapi di tengah-tengah masyarakat.

Para pegiat startup tidak boleh hanya asal ikut-ikutan. Minimnya minat investor untuk berinvestasi di startup baru disebabkan karena banyaknya startup baru yang hanya meniru pola model bisnis sama dengan yang dijalan startup yang sudah ada dan terbilang sukses. Padahal dengna teknologi, demand dan ekspektasi yang semakin tinggi akan menyulitkan startup untuk tumbuh jika masih menerapkan pola yang sama.

Semakin menjamurnya pertumbuhan startup juga diikuti dengan semakin banyaknya investor  lokal dan asing yang hadir di Indonesia. Akan tetapi, hampir semua investor tetap memiliki ketidakyakinan yang sama kepada startup baru. Mereka telah memiliki pengalaman memberikan investasi kepada startup baru dan pernah mengalami akhir yang tidak sukses. Sehingga investor akan lebih berhati-hati pada startup yang bakal diberikan pendanaan.

Untuk ke depannya, startup baru yang memanfaatkan teknologi masih menjadi favorit investor. Mereka yang memberikan layanan edutech, healthtech hingga peer-to-peer lending masih akan mendapatkan investasi. Peluang di kategori lain masih bisa diharapkan selama ada pemberitaan media yang cukup besar dan intens.

Pemerintah Indonesia sendiri mendukung pertumbuhan startup dengan melahirkan kebijakan-kebijakan yang memberikan kepastian hokum bagi pelaku startup, investor, dan tentunya konsumen.

Rujukan

[1] https://www.liputan6.com/tekno/read/3091922/menkominfo-targetkan-indonesia-punya-5-startup-unicorn-pada-2019

[2] https://www.maxmanroe.com/mengenal-4-jenis-istilah-tahapan-pendanaan-startup.html

[3] https://id.techinasia.com/b-capital-dana-investasi-rp-4-triliun

[4] https://dailysocial.id/post/menyimak-curhatan-para-investor-terhadap-startup-di-indonesia

Komentar
Memuat...