Connect with us

Hi, what are you looking for?

Blog

Penerbangan Domestik Selama New Normal Pasca PSBB Virus Corona: Jakarta – Padang

Tulisan ini akan berisi catatan pengalaman saya menjadi pelintas batas provinsi pada masa new normal pasca PSBB pandemi COVID-19 di DKI Jakarta. Isinya diupayakan runtut dan menyampaikan biaya-biaya yang diperlukan.

Periksaan calon penumpang di bandara
Petugas memeriksa kesehatan calon penumpang sebelum pemberangkatan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat, 15 April 2020. Sebanyak 1486 penumpang berizin dengan 23 penerbangan diterbangkan dari Bandara Soekarno Hatta dengan dokumen syarat terbang dan surat keterangan bebas COVID-19. ANTARA

Setelah menyelesaikan ujian akhir semester (UAS) untuk mata kuliah terakhir di jadwal UAS, Selasa (16/6/2020), saya memutuskan untuk kembali ke Padang.

Sebagai informasi, saya sedang berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta Pusat.

Karena bakal meninggalkan DKI Jakarta, saya merasa bakal membutuhkan SIKM dan mengurus syarat-syarat pembuatannya sesuai dengan syarat SIKM di situs informasi COVID-19 DKI Jakarta.

Mengurus Persyaratan

Pada hari itu dicantumkan surat pengantar RT/RW, surat pernyataan sehat, surat keterangan kerja, dan surat keterangan bebas COVID-19 berbentuk hasil pemeriksaan melalui rapid test atau PCR swab. Hari Rabu (17/6/2020) saya pergunakan untuk beres-beres dan mempersiapkan dokumen pengurusan syarat-syarat Surat Izin Keluar Masuk (SIKM).

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kamis (18/6/2020) pagi saya langsung mengurus surat pengantar ke RT/RW dan menuliskan maksud/keperluan secara jujur untuk “PULANG KAMPUNG”. Di sini ada ‘uang rokok‘ biaya pengurusan surat pengantar untuk “Pak RT”. Saya memberikan Rp 20.000 karena tidak tahu harga rokok. Maklum bukan perokok.

Lanjut, ada 2 surat lagi yang formatnya dapat diunduh dari situs informasi COVID-19 DKI Jakarta. Saya memutuskan untuk berdiskusi dengan ‘Aina, junior di kampus saat S1, karena telah lebih dulu kembali ke Padang.

Dari pengalamannya, semua surat-surat tadi tidak dibutuhkan kecuali surat keterangan bebas COVID-19 untuk masuk ke bandara. Sehingga saya pun memutuskan untuk memeriksakan diri keesokan harinya.

Rapid Test

Karena saya yang juga minim informasi pasti, Jumat (19/6/2020) pagi saya memutuskan untuk ke fasilitas kesehatan terdekat (berdasarkan Google Maps, berjarak 300 meter dari kos), puskesmas di kelurahan.

Sesampainya di puskesmas, ternyata kepagian karena puskesmas baru buka pukul 8.30 WIB, tidak sesuai dengan yang ditulis di Google My Business pada pukul 7.30 WIB. Akhirnya menunggulah selama sejam.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Meski puskesmas sendiri sering menggelar rapid test massal, ternyata mereka tidak melayani rapid test mandiri. Petugas pendaftaran mengatakan hanya bisa di rumah sakit besar dan tidak ada biaya karena ada Rp 500.000 yang telah ditanggung pemerintah.

Karena memang butuh agak cepat dan keterbatasan transportasi, saya langsung mendatangi rumah sakit swasta besar terdekat (berdasarkan Google Maps, berjarak 400 meter dari kos).

Petugas keamanan di pintu masuk langsung mengarahkan ke bagian medical check up begitu saya mengatakan ingin rapid test mandiri.

Petugas di bagian medical check up mengatakan syarat-syarat dan biaya yang ternyata tidak ditanggung pemerintah karena dilakukan secara mandiri. Di sini ada biaya sebesar Rp 600.000 yang harus dibayarkan. Proses ini dari masuk hingga keluar dari rumah sakit membutuhkan waktu tidak sampai sejam.

Sebagai informasi, rapid test hanya berlaku selama 3 hari dan PCR swab berlaku selama 7 hari.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Hari itu juga saya memesan tiket penerbangan dari salah satu maskapai yang melayani penerbangan langsung Tanggerang – Padang Pariaman.

Maskapai tersebut memiliki aturan yang dikeluarkan di mana maskapai meminta penumpang wajib datang 4 jam sebelum jadwal keberangkatan selama masa pandemi virus corona.

Dari Jakarta ke Padang

Sabtu (20/6/2020) saya pergi dari kos 7 jam sebelum keberangkatan karena merasa perjalanan bakal cukup lama.

Seperti biasanya, saya memilih untuk naik DAMRI dari Stasiun Gambir. Hal ini juga karena adanya berita transportasi sudah normal kembali. Ternyata berita tersebut salah, karena kenyataannya bus dan kereta menuju bandara masih belum beroperasi. Akhirnya, saya memesan taksi ke bandara.

Di Terminal 2, bandara menutup pintu keberangkatan domestik dan mengalihkannya ke pintu keberangkatan internasional. Di sana, petugas hanya memeriksa surat keterangan bebas COVID-19 yang masih berlaku.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Saat check in, petugas maskapai memeriksa kembali surat keterangan bebas COVID-19 dan memberikan kartu kewaspadaan kesehatan. Petugasnya sekalian menyampaikan kota Padang meminta PCR swab untuk syarat masuk.

Kesemua proses tadi tidak membutuhkan waktu lama, dan dimulailah menunggu beberapa jam.

Setelah ini proses berjalan normal sebagaimana biasanya saat sebelum pandemi.

Maskapai tidak mengatur jarak antar penumpang karena kata pramugarinya cukup mengikuti aturan 75% penumpang dari kapasitas.

Saat mendarat, semuanya berlangsung normal kecuali saat di pintu keluar bandara. Ada petugas kesehatan yang meminta mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik dari HP masing-masing penumpang. Selain itu ada petugas Satpol-PP yang memberikan dan mengumpulkan “DAFTAR ISIAN PELINTAS BATAS PROVINSI SUMATERA BARAT”.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Penumpang bisa keluar bangunan bandara setelah menyerahkan ke Satpol-PP.

Setelah ini, semuanya normal. Tidak ada pemeriksaan apa pun atau isian yang harus dilengkapi lagi.

Comments
Advertisement

Baca Tulisan Menarik Lainnya

Sejarah

Yano Kenzo merupakan Gubernur Chokan Sumatera Barat dari Agustus 1942 – Maret 1944. Sebagai mantan Gubernur Perfektur Toyama, Yano adalah sosok independen yang tidak...

Advertisement